Kategori
agama

Pembatal Puasa

Puasa adalah salah satu dari ibadah yang dilakukan oleh seorang Muslim.

Puasa ini dibagi menjadi 2 yaitu puasa Wajib dan puasa Sunnah.

Puasa Wajib itu hanya ada 1 yaitu hanya Puasa Ramadhan.

Sedangkan Puasa Sunnah, itu macamnnya lumayan banyak, dari mulai puasa senin kamis, puasa daud, puasa ayyamul bidh, dll.

Tapi taukah kamu hal hal yang dapat membatalkan puasa seseorang ? ini penjelasannya.

5 Hal Pembatal Puasa

Hal-hal berkaitan dengan Puasa, Shalat dan lainnya bisa anda lihat secara lebih lengkap pada website Temenngaji.com.

1. Makan & Minum secara Sengaja

Yang disebut sebagai puasa adalah, seseorang yang menjaga dirinnya dari makan dan minuman serta hal hal yang dapat mengurangi atau membatalkan puasa.

Apabila seseorang secara sengaja makan dan minum padahal ia sedang menjalankan puasa, maka otomatis puasannya Batal.

Namun, apabila orang tersebut lupa atau tidak sengaja dan tidak sadar bahwa dirinnya sedang menjalankan puasa maka itu tidak apa apa atau tidak batal puasannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا نَسِىَ فَأَكَلَ وَشَرِبَ فَلْيُتِمَّ صَوْمَهُ ، فَإِنَّمَا أَطْعَمَهُ اللَّهُ وَسَقَاهُ

Apabila seseorang makan dan minum dalam keadaan lupa, hendaklah dia tetap menyempurnakan puasanya karena Allah telah memberi dia makan dan minum

HR. Bukhari no. 1933 dan Muslim no. 1155.

2. Muntah secara Sengaja

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ ذَرَعَهُ قَىْءٌ وَهُوَ صَائِمٌ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَإِنِ اسْتَقَاءَ فَلْيَقْضِ

Barangsiapa yang muntah menguasainya (muntah tidak sengaja) sedangkan dia dalam keadaan puasa, maka tidak ada qadha’ baginya. Namun apabila dia muntah (dengan sengaja), maka wajib baginya membayar qadha’.

HR. Abu Daud no. 2380, Ibnu Majah no. 1676 dan Tirmidzi no. 720. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih.

3. Haidh atau Nifas

Bagi seorang perempuan yang sedang menjalankan puasa, qodarullah tiba tiba dirinnya datang bulan atau nifas, maka otomatis puasannya Batal.

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya mengenai sebab kekurangan agama wanita, beliau berkata,

أَلَيْسَ إِذَا حَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ

Bukankah wanita jika haidh tidak shalat dan tidak puasa?

HR. Bukhari no. 304 dan Muslim no. 79

4. Jima’ (Berhubungan badan secara sengaja)

Mencampuri istrinnya padahal iya tau bahwa dirinnya sedang berpuasa, itu secara otomatis akan membatalkan puasa yang ia jalani, walaupun tidak keluar mani atau sperma.

5. Keluar Mani secara Sengaja.

Apabila ada seseorang yang sedang berpuasa, kemudian timbul syahwatnnya padahal belum datang waktu untuk berbuka puasa dan iya melampiaskan baik dengan sendiri ataupun dengan bercumbu (Mubasyaroh) misalnnya maka puasannya batal.

Namun apabila seseorang yang mengeluarkan mani / sperma karena tidak disengaja, seperti bermimpi basah misalnnya maka puasannya tidak batal.

Konsekuensi dari Membatalkan Puasa

Diantara konsekuensi atau hal yang harus di tanggung bagi orang yang membatalkan puasa baik dengan makan dan minum, muntah, mendapati haidh atau nifas, maka kewajiban dirinnya adalah mengqadha puasa yang dibatalkannya.

Namun….! Apabila seseorang yang membatalkan puasa, karena jima’ (bersetubuh) di siang bulan Ramadhan, maka dirinnya memiliki kewajiban meng Qadha’ Puasa dan Wajib membayar Kafarah, yang dimana dibebankan pada seorang laki-laki.

Beban Kafarah yang di bayarkan adalah sebesar seperti memerdekakan satu orang budak, jika iya tidak mampu maka iya harus berpuasa 2 bulan berturut turut, dan apabila tidak mampu maka iya harus memberi makan 60 orang miskin. (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111)

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *